Renungan Firman

Testimony

Poligami Dalam Alkitab
Poligami dalam terminologi antopologi sosial, merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau isteri sekaligus pada suatu saat (berlawanan dengan monogami, di mana seseorang hanya memiliki satu suami atau isteri pada saat bersamaan.

Ada tiga bentuk poligami: Poligini (seorang pria memiliki beberapa isteri sekaligus), poliandri (seorang wanita memiliki beberapa suami sekaligus), dan pernikahan kelompok yakni kombinasi poligini dan poliandri.

Dalam konteks agama, Islam adalah salah satu agama yang memperbolehkan praktek poligami—meski sebagian penganut Islam berpendapat bahwa ajaran poligami muskil diterapkan lantaran pelakunya harus dapat bersikap adil kepada isteri-isterinya.  Ada juga yang berpendapat bahwa ayat Al-Quran mengenai poligami lahir karena latar belakang dunia Arab yang penuh dengan gairah nafsu dan perang bersekinambungan, sehingga jumlah wanita melebihi laki-laki. Akibatnya, banyak janda yang kemudian diperistri orang lain yang saat itu sudah memiliki isteri—demi alasan sosial dan ekonomi.

Bagi pendukung poligami, bentuk pernikahan semacam ini adalah alternatif yang lebih baik dibanding berzinah—khususnya bagi mereka yang memiliki hasrat seksual berlebih.

Kekristenan dengan tegas melarang praktek poligami. Alkitab Perjanjian Lama menyebutkan bahwa Allah menciptakan satu pria (Adam) dan satu wanita (Hawa) untuk melahirkan keturunan.

Meski demikian, Alkitab dengan jujur menceritakan adanya perilaku poligami seperti yang dilakukan oleh Lamech—anak Kain. Perlu diingat bahwa Kain adalah anak Adam yang melakukan dosa karena membunuh saudaranya, Habel. Ini berarti, perilaku poligami terjadi sejalan dengan penolakan manusia akan firman Allah.

Alkitab dengan gamblang juga menceritakan dampak negatif dari poligami; permusuhan keturunan Lut yang lahir dari poligami Lut dengan kedua putrinya; permusuhan berkelanjutan keturunan Amon dan Moab; persaingan dan peperangan di antara keturunan Yakub; keturunan Abraham yakni dari Ishak ( dari Sarah) dan Ismael (Hagar) yang hingga menjadi musuh bebuyutan yang melibatkan dua bangsa, Yahudi dan Arab, dalam konflik yang tak kunjung berakhir.

Sejatinya ajaran Yesus dan para rasul juga mengarah kepada monogami dengan mengacu pada penciptaan Adam dan Hawa, dan perjodohan yang merupakan pembentukan satu kesatuan daging yang melibatkan hanya dua pihak. Dengan demikian, kawin lagi berarti menceraikan yang pertama, dan ini disebut Yesus sebagai perzinahan (Matius 19:3-9).

Rasul Paulus juga menyebutkan perkawinan sebagai hubngan monogami yang mencerminkan kesatuan umat dengan Tuhan yang esa. Poligami dan perceraian adalah percabulan dan karena umat adalah rumah Roh Kudus, maka kita harus memuliakan Allah dengan tubuh kita (1 Korintus 6:12–7:16). Lebih lanjut, rasul Paulus menggambarkan pernikahan suami-isteri sebagai bersifat monogami mengacu pada hubungan Kristus dengan jemaat, dan kasih dan hormat merupakan penyatu dan dasar kehidupan suami-isteri (Efesus 5:22-33), dan ditengah budaya dimana ada orang-orang berpoligami dan ada orang-orang bertobat yang semasa kafir berpoligami, para pemimpin jemaat diharuskan menjadi teladan dengan beristeri satu saja (1 Timotius 3:2).
 
Source : GLMINISTRY.COM
 
 
 

Add comment


Security code
Refresh

Search

We Care of Them

Keluarga / Kerabat Anda menderita gangguan jiwa, ketergantungan NARKOBA, gangguan occultisme, dsbnya?

Prosedur lebih detail dan formulir pendaftaran bisa klik disini

Follow Us

Anda pengunjung ke

View My Stats